MODEL PEMBERDAYAAN PETERNAK PENGEMUKAN SAPI MELALUI KEMITRAAN
DENGAN BADAN USAHA MILIK DESA BERKAH SEJAHTERA
DESA TENGGULANG BARU
Disusun oleh:
BAMBANG PURWANTO
NIM: 2261201401
MATA KULIAH METEOLOGI PENELITIAN & TEKNIK PENULISAN ILMIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS AHMAD DAHLAN JAKARTA
2025
BAB I
PENDAHULUAN
Desa Tenggulang Baru Kecamatan Babat Supat Kabupaten Musi Banyuasin merupakan salah satu desa dengan potensi utama di sektor perkebunan kelapa sawit. Secara geografis, desa ini terletak di wilayah yang memiliki karakteristik tanah dan iklim yang sangat mendukung untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dan produksi pakan ternak. Dengan luas wilayah yang didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan, Desa Tenggulang Baru menjadi salah satu kantong produksi pakan ternak sapi di Kabupaten Musi Banyuaasin.
Sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup pada hasil perkebunan baik sebagai pemilik lahan, buruh tani, maupun pekerja pada perusahaan perkebunan sawit di sekitar wilayah desa. Data demografi menunjukkan bahwa sekitar 70-80% kepala keluarga di Desa Tenggulang Baru memiliki mata pencaharian yang berkaitan langsung dengan sektor kelapa sawit. Ketergantungan yang tinggi ini menjadikan sektor kelapa sawit sebagai penggerak utama perekonomian desa dan penentu tingkat kesejahteraan masyarakat setempat.
Namun ada Potensi lain dalam mengembangkan perekonomian masyarakat Desa Tenggulang Baru yakni petani kebun sawit dapat mengembangkan perkonomian dengan cara beternak penggemukan sapi, ini salah satu potensi masyarakat untuk menambah penghasilan tahunan dengan beternak sapi.
Permasalahan utama yang dihadapi Peternak Penggemukan Sapit di Desa Tenggulang Baru antara lain rendahnya Pengetahuan Potensi Ekonomi dalam usaha Penggemukan Sapi, keterbatasan akses terhadap modal usaha, lemahnya kemampuan manajemen usaha Peternak, serta kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan Pakan Ternakl dan pemasaran. Rendahnya Pengetahuan Potensi Pemberdayaan Berternak Penggemukan Sapi sering kali disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
Sebagian besar Peternak Penggemukan Sapi di Desa Tenggulang Baru mengelola Peternakan mereka secara tradisional tanpa penerapan Pengelolaan pakan yang memadai. Pemahaman tentang pengelolaan pakan ternak yang masih menggunaka metode tradisional.
Peternak menghadapi kesulitan dalam mengakses modal usaha dari lembaga keuangan formal karena berbagai kendala seperti tidak memiliki agunan yang memadai, prosedur yang rumit, dan persyaratan administratif yang sulit dipenuhi. Kondisi ini memaksa Peternak untuk bergantung pada sumber pembiayaan informal seperti rentenir atau tengkulak yang umumnya menerapkan bunga tinggi dan sistem ijon yang merugikan.
Akibatnya, sebagian besar peternak bergantung pada tengkulak atau pihak ketiga dalam menjual hasil ternaknay dengan harga yang tidak stabil. Sistem pemasaran yang tidak terorganisir menyebabkan Peternak tidak memiliki informasi harga pasar yang akurat dan terpaksa menerima harga yang ditetapkan oleh tengkulak. terutama ketika harga jual di tingkat peternak tidak sebanding dengan harga di tingkat pasar akhir karena geografi Desa Tenggulang Baru yang jauh dari akses pasar.
Kondisi tersebut berimbas pada rendahnya kesejahteraan dan daya saing peternak. Tanpa organisasi yang kuat, Peternak sulit untuk melakukan bargaining position yang baik, mengakses informasi pasar, mendapatkan pelatihan, atau mengembangkan usaha secara kolektif. Individualisme dalam berusaha ternak menjadikan peternak rentan terhadap eksploitasi dan tidak mampu memanfaatkan ekonomi skala.
Kehadiran Badan usaha milik Desa Tenggulang Baru menjadi salah satu potensi besar untuk mengatasi masalah ini. Badan Usaha Milik Desa sebagai lembaga ekonomi Desa berfungsi untuk memperkuat posisi tawar peternak, menyediakan akses permodalan, sarana produksi, serta memfasilitasi pemasaran hasil petebakan secara kolektif. Sebagai badan usaha milik Desa yang berasaskan kekeluargaan dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan Masyarakat, Badan Usaha Milik Desa memiliki posisi strategis dalam membangun sistem ekonomi yang lebih adil dan berkeadilan.
Badan Usaha Milik Desa dapat berperan sebagai:
Namun, kelembagaan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) ini masih memerlukan penguatan baik dari segi manajemen, transparansi, maupun kemitraan yang berkelanjutan dengan kelompok peternak penggemukan sapi. Banyak Badan Usaha Milik Desa di Indonesia yang mengalami kendala dalam pengelolaan organisasi, keterbatasan sumber daya manusia yang profesional, rendahnya partisipasi anggota, serta lemahnya sistem administrasi dan keuangan. Oleh karena itu, pengembangan model kemitraan yang efektif antara Badan Usaha Milik Desa dan Peternak menjadi sangat penting.
BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) berperan penting dalam pembangunan desa dengan menjadi motor penggerak ekonomi lokal, meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), menciptakan lapangan kerja, mengelola potensi desa (alam, pariwisata, UMKM), dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha serta layanan dasar seperti air bersih, dengan mengedepankan prinsip gotong royong dan transparansi.
Peran Utama BUMDes dalam Pembangunan Desa dan Masyarakat di Desa:
Dari perspektif pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs Desa), isu ini berkaitan langsung dengan beberapa tujuan pembangunan:
Peningkatan pendapatan peternak penggemukan sapi melalui kemitraan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) berkontribusi langsung pada pengentasan kemiskinan di perdesaan. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah perkebunan sawit rakyat masih relatif tinggi, sehingga intervensi yang tepat dapat memberikan dampak signifikan.
Peningkatan produktivitas dan pendapatan petani tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi tetapi juga ketahanan pangan keluarga. Petani yang sejahtera memiliki kemampuan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan mengakses pangan berkualitas.
Pengembangan model kemitraan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) –ppeternak penggemukan sapi diharapkan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan produktivitas ekonomi desa dan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal. Penciptaan sistem ekonomi yang lebih adil dan berkeadilan akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Model kemitraan antara BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), peternak, pemerintah desa, dan stakeholder lainnya merupakan implementasi konkret dari semangat kolaborasi yang menjadi kunci pencapaian SDGs.
Selain itu, program ini sejalan dengan arah kebijakan RPJMDes Desa Tenggulang Baru yang menekankan penguatan ekonomi masyarakat berbasis pertanian berkelanjutan. Dalam dokumen perencanaan pembangunan desa, pengembangan sektor Peternakan dan perkebunan menjadi prioritas utama dengan fokus pada peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan peternak, dan pengembangan sistem pemasaran yang efisien.
Kebijakan ketahanan pangan sektor peternak di Indonesia berfokus pada peningkatan produksi protein hewani (daging, telur, susu) secara berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan peternak, dan memastikan ketersediaan serta keterjangkauan pangan bergizi melalui penguatan hilirisasi, pengembangan SDM, pemanfaatan teknologi, reformasi kebijakan (seperti Revisi UU PKH), serta dukungan untuk peternak kecil agar tercipta ekosistem peternakan nasional yang mandiri dan berdaya saing.
Arah Kebijakan Utama:
Contoh Implementasi:
secara keseluruhan, kebijakan ini bertujuan menjadikan sektor ternak sebagai pilar penting dalam mewujudkan kemandirian pangan dan kesejahteraan nasional.
Melalui pendekatan sociotechnopreneurship, proyek ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keuntungan ekonomi, tetapi juga mendorong nilai sosial berupa kolaborasi, partisipasi, dan keberlanjutan lingkungan. Sociotechnopreneurship merupakan pendekatan yang mengintegrasikan tiga dimensi utama:
Fokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengurangan kesenjangan, dan pembangunan modal sosial. Dalam konteks proyek ini, dimensi sosial diwujudkan melalui pembangunan kepercayaan antara BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), pengembangan budaya gotong royong dan kolaborasi, serta penguatan kohesi sosial dalam komunitas Peternak.
Pemanfaatan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Hal ini mencakup penerapan teknologi penyediaan pakan terak yang baik, penggunaan sistem informasi untuk manajemen Pengelolaan dan pemasaran, serta adopsi inovasi-inovasi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Pengembangan jiwa dan keterampilan kewirausahaan untuk menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan usaha. Peternak dan pengurus BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) perlu dibekali dengan mindset dan kompetensi kewirausahaan agar mampu menangkap peluang pasar, berinovasi, mengambil risiko terkalkulasi, dan mengelola usaha secara profesional.
Dengan mengembangkan model kemitraan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) –Peternak berbasis sociotechnopreneurship, diharapkan muncul inovasi sosial yang mampu meningkatkan kapasitas Peternak, memperkuat kelembagaan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), dan menciptakan sistem pemasaran yang lebih adil dan efisien. Inovasi sosial yang dimaksud bukan hanya berupa produk atau teknologi baru, tetapi juga proses, praktik, dan model organisasi baru yang dapat memberikan solusi lebih baik terhadap permasalahan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat.
Oleh karena itu, gagasan proyek pengembangan ini bertujuan untuk merancang model pemberdayaan Peternakan penggemukan sapi melalui kemitraan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) yang partisipatif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi Desa Tenggulang Baru. Urgensi proyek ini dapat dilihat dari beberapa aspek:
Tingkat kesejahteraan peternak penggemukan sapi yang masih rendah memerlukan intervensi yang cepat dan tepat. Tanpa perbaikan sistem, kesenjangan ekonomi antara peternak dan pelaku lain dalam rantai nilai pemasaran akan semakin melebar.
Ketimpangan ekonomi yang berkelanjutan dapat memicu konflik sosial, migrasi penduduk produktif ke kota, dan disintegrasi sosial. Penguatan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) sebagai wadah solidaritas sosial dapat menjadi perekat komunitas.
Praktik budidaya yang tidak berkelanjutan karena keterbatasan pengetahuan dan modal dapat menyebabkan degradasi lingkungan. Model kemitraan yang baik dapat mendorong adopsi praktik peternakan berkelanjutan.
Penguatan kelembagaan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) sebagai organisasi ekonomi di Desa perlu dilakukan sebelum terlambat. Banyak BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) yang mati suri karena tidak ada upaya revitalisasi yang sistematis.
Proyek ini diharapkan menjadi solusi konkret dalam meningkatkan kesejahteraan Peternak sekaligus memperkuat perekonomian desa secara mandiri. Lebih dari itu, proyek ini dapat menjadi model replikabel yang dapat diterapkan di desa-desa lain dengan karakteristik serupa, sehingga memberikan dampak yang lebih luas bagi pembangunan perdesaan di Indonesia.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam proyek pengembangan ini adalah sebagai berikut:
Pertanyaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola, mekanisme, dan struktur kemitraan yang sudah ada maupun yang ideal untuk dikembangkan. Analisis akan mencakup aspek-aspek seperti sistem bagi hasil, mekanisme pengambilan keputusan, pembagian peran dan tanggung jawab, serta sistem monitoring dan evaluasi kemitraan.
Pertanyaan ini akan mengeksplorasi faktor-faktor pendorong (enabling factors) dan faktor-faktor penghambat (constraining factors) keberhasilan kemitraan. Faktor-faktor yang akan dianalisis meliputi aspek kepemimpinan, partisipasi anggota, kapasitas manajerial, akses permodalan, dukungan pemerintah, kondisi pasar, dan faktor-faktor sosial budaya lainnya.
Pertanyaan ini merupakan inti dari proyek pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan desain model kemitraan yang komprehensif, aplikatif, dan sustainable. Model yang dirancang harus mempertimbangkan aspek kelayakan ekonomi, akseptabilitas sosial, keberlanjutan lingkungan, dan feasibilitas implementasi.
Tujuan dari proyek pengembangan ini adalah untuk:
Tujuan spesifik ini akan dicapai melalui kegiatan:
Tujuan spesifik ini akan dicapai melalui kegiatan:
Proyek pengembangan ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:
Melalui kemitraan dengan BUMDesa, peternak akan memiliki akses yang lebih mudah dan murah terhadap modal usaha. BUMDesa dapat menyediakan kredit dengan bunga rendah dan persyaratan yang lebih fleksibel dibandingkan lembaga keuangan formal. Selain itu, peternak akan mendapatkan akses terhadap pelatihan teknis budidaya, manajemen usaha ternak, dan informasi pasar yang akurat dan terkini. Akses pasar yang lebih baik akan meningkatkan posisi tawar peternak dan mengurangi ketergantungan pada tengkulak.
Dengan penerapan praktik budidaya yang baik (GAP) yang didukung oleh BUMDesa, produktivitas peternak penggemukan sapi diharapkan dapat meningkat secara signifikan. Peningkatan produktivitas akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan peternak. Selain itu, melalui proses pembelajaran dan pendampingan yang berkelanjutan, peternak akan mengembangkan kapasitas dan kemandirian dalam mengelola usaha ternak mereka. Kemandirian ini penting untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang kesejahteraan peternak.
Peningkatan pendapatan yang stabil dan berkelanjutan akan meningkatkan kesejahteraan keluarga peternak. Mereka akan memiliki kemampuan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan dasar, mengakses layanan kesehatan dan pendidikan, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Peternak yang terorganisir dalam BUMDesa memiliki kekuatan kolektif yang lebih besar dalam bernegosiasi dengan pihak luar, baik pembeli, pemasok sarana produksi, maupun pemerintah. Suara kolektif lebih mudah didengar dan diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan.
Proyek ini akan memberikan masukan untuk perbaikan sistem organisasi dan manajemen BUMDesa. Dengan sistem yang lebih baik, BUMDesa akan lebih efektif dan efisien dalam menjalankan fungsinya sebagai mitra strategis peternak. Penguatan kelembagaan mencakup aspek legal formal, struktur organisasi, mekanisme pengambilan keputusan, sistem akuntabilitas, dan budaya organisasi yang sehat.
BUMDesa akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik dalam mengelola berbagai unit usaha seperti unit simpan pinjam, unit penyediaan pakan, dan unit pemasaran. Kapasitas manajerial yang lebih baik akan meningkatkan kinerja BUMDesa dan kepercayaan peternak.
Melalui proyek ini, BUMDesa akan memiliki kesempatan untuk mengembangkan jaringan dengan berbagai pihak seperti lembaga keuangan, pasar hewan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan organisasi lainnya. Jaringan yang luas akan membuka peluang-peluang baru untuk pengembangan usaha.
Dengan model kemitraan yang lebih efektif, partisipasi peternak diharapkan meningkat sehingga volume usaha BUMDesa juga meningkat. Peningkatan volume usaha akan memperkuat kapasitas finansial BUMDesa dan memastikan keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang.
Proyek ini akan menghasilkan data empiris yang dapat dijadikan basis evidence-based policy making. Pemerintah desa akan memiliki informasi yang lebih lengkap dan akurat tentang kondisi peternak penggemukan sapi dan potensi pengembangannya. Model kemitraan yang berhasil dapat dijadikan acuan untuk replikasi di sektor atau desa lain.
Keberhasilan proyek ini akan berkontribusi langsung terhadap pencapaian target-target pembangunan desa yang telah ditetapkan dalam SDGs Desa dan RPJMDes. Pemerintah desa akan memiliki program konkret yang terbukti efektif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat melalui BUMDesa, potensi pendapatan asli desa juga dapat meningkat. Desa yang lebih sejahtera akan memiliki kapasitas fiskal yang lebih baik untuk membiayai program-program pembangunan.
Kolaborasi antara pemerintah desa dengan BUMDesa dan masyarakat dalam proyek ini akan memperkuat praktik good governance di tingkat desa. Transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas akan menjadi nilai-nilai yang semakin mengakar dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
Proyek ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan teori dan konsep yang dipelajari di bangku kuliah dalam situasi nyata. Pengalaman lapangan ini sangat berharga untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas permasalahan pembangunan perdesaan.
Melalui keterlibatan dalam proyek ini, mahasiswa akan mengembangkan berbagai keterampilan profesional seperti kemampuan analisis, komunikasi, fasilitasi, negosiasi, manajemen proyek, dan pemecahan masalah. Kompetensi-kompetensi ini sangat penting untuk karir profesional di masa depan.
Mahasiswa akan memperoleh pemahaman praktis tentang bagaimana mengintegrasikan dimensi sosial, teknologi, dan kewirausahaan dalam sebuah intervensi pembangunan. Pengalaman ini akan memperkaya perspektif mereka tentang pendekatan pembangunan yang holistik dan berkelanjutan.
Interaksi langsung dengan masyarakat desa dan pemahaman tentang permasalahan mereka akan menumbuhkan empati dan kepedulian sosial pada diri mahasiswa. Nilai-nilai ini penting untuk membentuk karakter pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat.
Mahasiswa akan merasakan kepuasan tersendiri karena dapat memberikan kontribusi nyata untuk perbaikan kehidupan masyarakat. Pengalaman ini akan memberikan makna yang lebih dalam terhadap pendidikan yang mereka jalani dan motivasi untuk terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
BAB II
GAMBARAN UMUM DESA DAN ANALISIS SITUASI
Desa Tenggulang Baru merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Slatan. Secara geografis, Desa Tenggulang Baeru berada pada wilayah perkebunan dengan luas wilayah yang didominasi oleh areal perkebunan kelapa sawit, baik perkebunan rakyat maupun perkebunan perusahaan. Batas administrasi desa meliputi wilayah perkebunan dan desa-desa sekitar di Kecamatan Babat supat. Kondisi topografi desa relatif datar hingga rawa, dengan jenis tanah yang sesuai untuk pengembangan tanaman pakan ternak.
Aksesibilitas menuju Desa Tenggualng Baru sebagian besar masih berupa jalan tanah dan jalan pengerasan. Pada musim hujan, kondisi ini sering menimbulkan kendala transportasi dan distribusi hasil ternak. Namun demikian, desa masih memiliki akses menuju pusat kecamatan dan kawasan perkebunan yang menjadi potensi produksi pakan ternak.
Secara demografis, penduduk Desa Tenggulang Baru didominasi oleh usia produktif. Mata pencaharian utama masyarakat adalah petani kelapa sawitdan ternak sapi, buruh perkebunan, serta sebagian kecil bergerak di sektor perdagangan dan jasa. Tingkat pendidikan masyarakat relatif bervariasi, mulai dari lulusan pendidikan dasar hingga menengah, dengan sebagian kecil masyarakat yang telah menempuh pendidikan tinggi.
Dari aspek sosial budaya, masyarakat Desa Tenggulang Baru memiliki nilai gotong royong dan kebersamaan yang masih kuat. Kegiatan sosial dan keagamaan menjadi sarana utama dalam membangun solidaritas masyarakat. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa tergolong cukup baik, khususnya dalam kegiatan pembangunan fisik dan kegiatan kemasyarakatan.
Potensi ekonomi desa bertumpu pada sektor perkebunan kelapa sawit rakyat. Selain itu, keberadaan kelompok peternak dan BUMDesa menjadi modal sosial dan kelembagaan yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa secara berkelanjutan.
Desa Tenggulang Baru memiliki potensi sumber daya alam berupa lahan perkebunan kelapa sawit yang cukup luas dan produktif. Dari sisi sumber daya manusia, petani sawit memiliki pengalaman yang cukup lama dalam budidaya kelapa sawit dan berpotensi dalam pengembangan produksi pakan ternak, meskipun sebagian besar masih menerapkan pola pengelolaan secara tradisional. Keberadaan kelompok ternak dan BUMDesa menjadi potensi kelembagaan yang dapat dikembangkan sebagai penggerak ekonomi desa.
Potensi ekonomi desa juga didukung oleh permintaan pasar terhadap komoditas sapi pedaging yang relatif stabil. Selain itu, peluang penerapan praktik peternakan penggemukan sapi berkelanjutan menjadi nilai tambah dalam meningkatkan ekonomi masyarakat.
Namun demikian, desa juga menghadapi berbagai permasalahan. Permasalahan utama meliputi rendahnya pemahaman peternak mengenai praktik produksi pengolahan pakan ternak berkelanjutan, keterbatasan manajemen usaha ternak, belum optimalnya pencatatan keuangan, serta minimnya pemanfaatan teknologi tepat guna. Infrastruktur jalan yang belum memadai serta fluktuasi harga pakan juga menjadi tantangan dalam pengembangan ekonomi desa.
Berdasarkan analisis SWOT, kekuatan Desa Tenggulang Baru terletak pada ketersediaan lahan dan pengalaman peternak, sedangkan kelemahannya adalah keterbatasan kapasitas manajerial dan inovasi. Peluang pengembangan muncul melalui dukungan kebijakan SDGs Desa, RPJMDes, serta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Adapun ancaman yang dihadapi meliputi ketidakstabilan harga pakan dan potensi degradasi lingkungan.
Berdasarkan hasil analisis situasi, kebutuhan utama Desa Tenggulang Baru adalah peningkatan kapasitas peternak dalam pengelolaan usaha peternakan yang berkelanjutan. Kebutuhan tersebut mencakup peningkatan pengetahuan teknis budidaya, penguatan manajemen usaha ternak, serta pengembangan kelembagaan peternak.
Kebutuhan ini sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional dan daerah yang tertuang dalam RPJMN, RPJMD, serta RPJMDes, khususnya dalam upaya peningkatan Ketahanan Pangan desa dan pelestarian lingkungan. Selain itu, kebutuhan tersebut relevan dengan tujuan SDGs Desa, terutama tujuan peningkatan ekonomi desa, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan berkelanjutan.
Peluang pengembangan dapat dilakukan melalui kolaborasi antara mahasiswa, peternak, pemerintah desa, dan BUMDesa dalam kerangka program MBKM. Prinsip sociotechnopreneurship menjadi dasar dalam melihat peluang inovasi yang tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan bagi masyarakat desa.
BAB III
PERENCANAAN PROYEK PENGEMBANGAN DESA
Proyek pengembangan desa ini berjudul "Kolaborasi Mahasiswa dan peternak dalam Pengembangan Usaha Ternak penggemukan sapi Berkelanjutan di Desa Tenggulang Baru, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin". Proyek ini dilaksanakan dalam kerangka program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) pada skema proyek sosial dan pembangunan desa (SARDES).
Latar belakang proyek ini adalah adanya potensi besar sektor perkebunan kelapa sawit dan peternakan penggemukan sapi di Desa Tenggulang Baru yang belum dikelola secara optimal dan berkelanjutan. Melalui proyek ini, mahasiswa berperan sebagai pendamping dan fasilitator dalam meningkatkan kapasitas peternak dan kelembagaan desa.
Kegiatan dilaksanakan di Desa Tenggulang Baru dengan durasi menyesuaikan periode pelaksanaan program MBKM. Pihak-pihak yang terlibat meliputi mahasiswa, kelompok ternak, BUMDesa, dan pemerintah desa.
Tujuan umum proyek ini adalah meningkatkan kapasitas peternak penggemukan sapi dalam mengelola usaha peternakan secara berkelanjutan dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Tujuan khusus proyek meliputi: (1) meningkatkan pemahaman peternak mengenai praktik beternak sapi yang berkelanjutan, (2) memperkuat manajemen usaha ternak dan pencatatan keuangan, (3) menguatkan peran kelompok ternak dan BUMDesa sebagai lembaga ekonomi desa.
Sasaran proyek adalah kelompok peternak penggemukan sapi dan BUMDEsa yang berada di Desa Tenggulang Baru sebagai penerima manfaat langsung kegiatan.
Strategi pelaksanaan proyek menggunakan pendekatan problem solving berbasis sociotechnopreneurship. Metode yang diterapkan meliputi pendampingan partisipatif, pelatihan kelompok, diskusi terfokus, serta praktik lapangan. Kolaborasi multipihak antara mahasiswa, peternak, pemerintah desa, dan BUMDesa menjadi kunci utama dalam pelaksanaan proyek ini.
Mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang membantu mengidentifikasi permasalahan, merancang solusi, serta mendampingi pelaksanaan kegiatan secara berkelanjutan.
Rencana kegiatan proyek disusun secara bertahap dan sistematis. Tahap persiapan meliputi koordinasi dengan pemerintah desa dan kelompok peternak serta pemetaan kebutuhan. Tahap pelaksanaan mencakup kegiatan pelatihan, pendampingan manajemen usaha ternak, dan praktik penerapan prinsip berternak berkelanjutan. Tahap evaluasi dilakukan untuk menilai capaian kegiatan dan keberlanjutan program.
Jadwal pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan waktu pelaksanaan program MBKM dan kebutuhan desa.
Sumber daya yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek meliputi sumber daya manusia berupa mahasiswa, peternak, dan perangkat desa. Sumber daya dana berasal dari dukungan program MBKM dan kontribusi desa. Sarana dan prasarana meliputi tempat pertemuan, alat tulis, dan media pelatihan.
Dukungan kelembagaan dari pemerintah desa, BUMDesa, dan perguruan tinggi sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan proyek pengembangan desa ini.
Unduh Lampiran:
Laporan Tugas MBKM